Daftar Isi
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan
Sejarah Lambang Negara Indonesia
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
LAMBANG PERTAMA

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
LAMBANG KEDUA

Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.
AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini.
Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.
LAMBANG KETIGA

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.
Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
LAMBANG KEEMPAT

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak.
Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Foto Detik detik Runtuhnya Jembatan Tenggarong
Icon Kemakmuran Kutai kartanegara

Kejadian Begitu cepat....yang tershoot camera cuma percikan air dari runtuhan kerangka baja Jembatan


Kendaraan yang tercebur ke sungai Mahakam

yang tersangkut juga ada



sumber : Viva Forum / Antara

Kejadian Begitu cepat....yang tershoot camera cuma percikan air dari runtuhan kerangka baja Jembatan


Kendaraan yang tercebur ke sungai Mahakam

yang tersangkut juga ada



sumber : Viva Forum / Antara
Mengenal sosok Sofie Kornelia Pandean, Perempuan pembaca Teks Sumpah Pemuda

Mungkin banyak orang tak mengenal nama almarhumah Sofie Kornelia Pandean. Padahal, Sofie adalah perempuan Minahasa yang membacakan naskah Sumpah Pemuda 1928 di Sulawesi Utara tepatnya di depan Gedung Gemeente Bioscoop Manado--sekarang Bioskop Presiden Pasar 45.
Pada tahun 1928, Sofie yang kemudian dikenal dengan nama SK Pandean menjadi panitia persiapan Sumpah Pemuda. Saat itu, masyarakat dan pemuda Manado banyak berkumpul di depan Gedung Gemeente Bioscoop
Setelah membacakan naskah tersebut, SK Pandean bersama tiga temannya langsung ditahan pihak koloni Belanda dan dimasukkan kedalam penjara. Saat itu, paman SK Pandean yang merupakan jaksa berusaha membebaskan perempuan kelahiran Paniki Bawah 28 Agustus 1911 tersebut.
Pada umur 21, tepatnya sekitar tahun 1932, SK Pandean berangkat menuju ke tanah Jawa Tengah.Di sana wanita tersebut masuk dalam Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dan tinggal dengan Mandagi yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Pengadilan Semarang.
Tahun 1935, setelah pemberontakan Permesta, SK Pandean pulang ke Manado bersama suaminya Frans Rudolf Oey, yang merupakan keturunan Tionghoa. Di Manado, ia dipercaya sebagai penasihat para Gubernur Sulut.
Tepatnya tanggal 6 Januari 1997, wanita yang telah berjasa tersebut menghembsukan napas terakhirnya di usia 85 tahun. SK Pandean dimakamkan di samping rumahnya di Jalan AA Maramis Nomor 179.
Semasa hidup, SK Pandean pernah menjabat Letnan BKR Kompi V, Batalyon 15 Resimen I, Magelang, Jateng. Kemudian Pimpinan Wanita KRIS, ditugaskan untuk menjenguk Presiden RI, Ir Soekarno dan HA Salim ketika dibuang ke Bangka tahun 1949. Tahun 1958, ia dianuhgerahi Satya Lencana Aksi Militer kedua oleh Menteri Pertahanan Juanda.
Fakta unik Reshuffle Kabinet SBY
1. DAHLAN ISKAN : Menangis ketika diminta menjadi Meneg BUMN menggantikan Mustafa Abubakar.
Bukan kali pertama Dahlan Iskan menangis didepan Publik, 18 mei 2010 yang lalu sewaktu rapat dengar pendapat dengan komisi VII DPR ,Dahlan Iskan menangis karena 2 Ibukota Provinsi : Palu dan Lombok kekurangan pasokan Listrik,usut punya usut ternyata Instruksinya kepada bawahan untuk menanda tangani Pembelian Listrik dari Investor lokal tidak di lakukan karena takut masuk penjara,

2. FADEL MUHAMMAD : Emosi dan Marah ketika di Copot dari menteri kelautan dan perikanan. Posisinya digantikan rekan satu Partainya Tjitjip Sutarjo.

3. TJITJIP SUTARJO : Lolos jadi Menteri walau tanpa proses Audisi

4. BEERTH KAMBUAYA : Dipanggil SBY , Putra asli Papua ini langsung terbang langsung ke Istana ,selesai menemui SBY , Beerth tampak Kebingungan ,ketika ditanya wartawan ternyata Calon Menteri Lingkungan Hidup ini kebingungan mau menginap dimana ??

5. DJAN FARIDZ : Kabur saat Test Kesehatan di RSPAD karena mendapat kabar Gagal jadi Menteri Karena alasan Kesehatan.Setengah Jam sebelum Pengumuman Resmi Sekjen PPP mengajukan nama Hazrul Azwar sebagai pengganti Djan Faridz kepada Presiden, Saat Pengumuman Daftar Menteri ,Nama Djan Faridz tetap ditunjuk SBY menjadi menteri Perumahan rakyat menggantikan Suharso Manoarfa.

6. Mayoritas Menteri yang di Reshuffle Lahir pada Bulan Oktober
* Freddy Numberi 15 Oktober
* Patrialis Akbar, 31 Oktober
* Darwin Zahedi Shaleh , 29 Oktober
* Mustafa Abubakar , 15 Oktober
* Suharso Manoarfa., 31 Oktober
* Marie Elka Pangestu, 23 Oktober
7. Biang Reshuffle malah tidak di Reshuffle
Gonjang ganjing Reshuffle mulai berhembus ketika Nama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar disebut sebut dalam kasus Suap di Kemenakertras dan Menpora Andi Malarangeng dalam kasus Suap Wisma Atlet Palembang yang disedang ditangani KPK.Publik begitu yakin kedua menteri ini bakal direshuffle untuk menjaga kepercayaan Masyarakat kepada Pemerintahan SBY.Tapi dengan alasan belum mempunyai keputusan Hukum atas Status keduanya Presiden tetap mempertahankan keduanya di Pos masing masing.
Bukan kali pertama Dahlan Iskan menangis didepan Publik, 18 mei 2010 yang lalu sewaktu rapat dengar pendapat dengan komisi VII DPR ,Dahlan Iskan menangis karena 2 Ibukota Provinsi : Palu dan Lombok kekurangan pasokan Listrik,usut punya usut ternyata Instruksinya kepada bawahan untuk menanda tangani Pembelian Listrik dari Investor lokal tidak di lakukan karena takut masuk penjara,

2. FADEL MUHAMMAD : Emosi dan Marah ketika di Copot dari menteri kelautan dan perikanan. Posisinya digantikan rekan satu Partainya Tjitjip Sutarjo.

3. TJITJIP SUTARJO : Lolos jadi Menteri walau tanpa proses Audisi

4. BEERTH KAMBUAYA : Dipanggil SBY , Putra asli Papua ini langsung terbang langsung ke Istana ,selesai menemui SBY , Beerth tampak Kebingungan ,ketika ditanya wartawan ternyata Calon Menteri Lingkungan Hidup ini kebingungan mau menginap dimana ??

5. DJAN FARIDZ : Kabur saat Test Kesehatan di RSPAD karena mendapat kabar Gagal jadi Menteri Karena alasan Kesehatan.Setengah Jam sebelum Pengumuman Resmi Sekjen PPP mengajukan nama Hazrul Azwar sebagai pengganti Djan Faridz kepada Presiden, Saat Pengumuman Daftar Menteri ,Nama Djan Faridz tetap ditunjuk SBY menjadi menteri Perumahan rakyat menggantikan Suharso Manoarfa.

6. Mayoritas Menteri yang di Reshuffle Lahir pada Bulan Oktober
* Freddy Numberi 15 Oktober
* Patrialis Akbar, 31 Oktober
* Darwin Zahedi Shaleh , 29 Oktober
* Mustafa Abubakar , 15 Oktober
* Suharso Manoarfa., 31 Oktober
* Marie Elka Pangestu, 23 Oktober
7. Biang Reshuffle malah tidak di Reshuffle
Gonjang ganjing Reshuffle mulai berhembus ketika Nama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar disebut sebut dalam kasus Suap di Kemenakertras dan Menpora Andi Malarangeng dalam kasus Suap Wisma Atlet Palembang yang disedang ditangani KPK.Publik begitu yakin kedua menteri ini bakal direshuffle untuk menjaga kepercayaan Masyarakat kepada Pemerintahan SBY.Tapi dengan alasan belum mempunyai keputusan Hukum atas Status keduanya Presiden tetap mempertahankan keduanya di Pos masing masing.
Indonesia : Ketiban Satelit Runtuh
23 Sept 2011 .ramai di beritakan Rongsokan Satelit UARS mengarah ke Indonesia, Satelit seberat 6 ton ini diperkirakan menghujam bumi terdiri dari 26 keping,
Dalam sejarahnya indonesia telah beberapa kali kejatuhan satelit, berikut beberapa pecahan sampah Luar angkasa yang menghujam wilayah Indonesia :




1. Bagian motor roket Cosmos 3M di Gorontalo
Roket Milik Rusia ini jatuh di Gorontalo 26 maret 1981 pada pukul 20.13 Wita

2. Bagian motor roket Soyuz A-2 di Lampung
Masih milik Rusia, bagian roket ini menghujam bumi sumatera tepatnya di Lampung pada tanggal 16 April 1988 pukul 10.24

3. Pecahan Roket CZ-3A RRC di Bengkulu Utara
Sore 13 Oktober 2003 desa Bukit Harapan kec Ketahun Bengkulu Utara mendadak mendadak mengelegar diikuti getaran mirip gempa, wargapun panik, keesokan harinya seorang petani mendapati kebun karetnya porak poranda dan sebuah benda yang tidak diketahuinya tepat dibekas runtuhan kebun karetnya

4. Pecahan Satelit OKEAN 3 dilangit Flores.
23 Feb 2007 sebuah ledakan keras terdengar di langit Flores, tak ada laporan kecelakaan pesawat pada saat itu,tapi dari hasil analisa objek Angkasa yang melintasi daerah tersebut pada tanggal itu kuat dugaan ledakkan itu berasal dari Satelit OKEAN 3 milik rusia yang saat itu dalam proses hancur melintasi Flores pada pukul 07.18.
Lintasan pecahan OKEAN 3

Surat dari pelaku sejarah Tragedi Rawagede : Antara Perang dan Pembantaian
Pada Rabu 14 September 2011, Pengadilan Den Haag mengabulkan tuntutan keluarga korban kejahatan perang di Desa Rawagede, Jawa Barat. Belanda harus mengakui kesalahannya dan memberi kompensasi kepada keluarga korban.
Cerita duka dari pihak korban tentang pembantaian Rawagede telah tersebar: para lelaki yang dibantai diberondong senapan dari belakang, sungai yang merah dengan darah, tangis pilu janda dan anak-anak yang dengan tenaga seadanya berusaha menguburkan 431 jasad yang bergelimpangan, serta tentang bau mayat yang menyengat selama berhari-hari.
Bagaimana dari sisi pelaku?
Cerita duka dari pihak korban tentang pembantaian Rawagede telah tersebar: para lelaki yang dibantai diberondong senapan dari belakang, sungai yang merah dengan darah, tangis pilu janda dan anak-anak yang dengan tenaga seadanya berusaha menguburkan 431 jasad yang bergelimpangan, serta tentang bau mayat yang menyengat selama berhari-hari.
Bagaimana dari sisi pelaku?
Sebuah surat tanpa nama dikirim kepada Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Belanda. Pengirimnya mengaku seorang veteran perang yang mengaku ikut andil dalam tragedi yang terjadi pada 9 Desember 1947 silam itu.
Surat itu berisi penyesalan. "Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata," kata orang tersebut seperti dimuat Radio Netherland Siaran Indonesia.
"Terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka yang terbelalak, ketakutan dan tak faham."
Berikut petikan surat itu:
Wamel Rawa Gedeh
"Namaku tidak bisa aku sebutkan, tapi aku bisa ceritakan kepada Anda apa yang sebenarnya terjadi di desa Rawa Gedeh (Rawagede).
Anda tahu, antara tahun 1945 – 1949, kami mencoba merebut kembali jajahan kami di Asia Tenggara. Untuk itu dari tahun 1945 sampai 1949, sekitar 130.000 tentara Belanda dikirim ke bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Di sana terjadi berikut ini:
Di Jawa Barat, timur Batavia, di daerah Krawang, ada Desa Rawa Gedeh. Dari arah Rawa Gedeh tentara Belanda ditembaki. Maka diputuskanlah untuk menghajar desa ini untuk dijadikan pelajaran bagi desa-desa lain.
Saat malam hari Rawa Gedeh dikepung. Mereka yang mencoba meninggalkan desa, dibunuh tanpa bunyi (diserang, ditekan ke dalam air sampai tenggelam; kepala mereka dihantam dengan popor senjata, dll)
Jam setengah enam pagi, ketika mulai siang, desa ditembaki dengan mortir. Pria, wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh: semuanya ditembak mati. Jumlahnya ratusan.
Setelah desa dibakar, tentara Belanda menduduki wilayah itu. Penduduk desa yang tersisa lalu dikumpulkan, jongkok, dengan tangan melipat di belakang leher. Hanya sedikit yang tersisa. Rawa Gedeh telah menerima 'pelajarannya'.
Semua lelaki ditembak mati--kami dinamai 'Angkatan Darat Kerajaan'.
Semua perempuan ditembak mati--padahal kami datang dari negara demokratis.
Semua anak ditembak mati--padahal kami mengakunya tentara yang Kristiani.
Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata, terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham.
Aku tidak bisa menyebut namaku, karena informasi ini tidak disukai kalangan tertentu." (kd)
• VIVAnewsSurat itu berisi penyesalan. "Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata," kata orang tersebut seperti dimuat Radio Netherland Siaran Indonesia.
"Terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka yang terbelalak, ketakutan dan tak faham."
Berikut petikan surat itu:
Wamel Rawa Gedeh
"Namaku tidak bisa aku sebutkan, tapi aku bisa ceritakan kepada Anda apa yang sebenarnya terjadi di desa Rawa Gedeh (Rawagede).
Anda tahu, antara tahun 1945 – 1949, kami mencoba merebut kembali jajahan kami di Asia Tenggara. Untuk itu dari tahun 1945 sampai 1949, sekitar 130.000 tentara Belanda dikirim ke bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Di sana terjadi berikut ini:
Di Jawa Barat, timur Batavia, di daerah Krawang, ada Desa Rawa Gedeh. Dari arah Rawa Gedeh tentara Belanda ditembaki. Maka diputuskanlah untuk menghajar desa ini untuk dijadikan pelajaran bagi desa-desa lain.
Saat malam hari Rawa Gedeh dikepung. Mereka yang mencoba meninggalkan desa, dibunuh tanpa bunyi (diserang, ditekan ke dalam air sampai tenggelam; kepala mereka dihantam dengan popor senjata, dll)
Jam setengah enam pagi, ketika mulai siang, desa ditembaki dengan mortir. Pria, wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh: semuanya ditembak mati. Jumlahnya ratusan.
Setelah desa dibakar, tentara Belanda menduduki wilayah itu. Penduduk desa yang tersisa lalu dikumpulkan, jongkok, dengan tangan melipat di belakang leher. Hanya sedikit yang tersisa. Rawa Gedeh telah menerima 'pelajarannya'.
Semua lelaki ditembak mati--kami dinamai 'Angkatan Darat Kerajaan'.
Semua perempuan ditembak mati--padahal kami datang dari negara demokratis.
Semua anak ditembak mati--padahal kami mengakunya tentara yang Kristiani.
Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata, terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham.
Aku tidak bisa menyebut namaku, karena informasi ini tidak disukai kalangan tertentu." (kd)
Detik detik Eksekusi Mati Dr Soumokil, Presiden RMS

Pakar sejarah mengatakan menemukan lokasi makam mantan Presiden Republik Maluku Selatan Dr Soumokil bak mencari jarum dalam jerami. Demikian disampaikan sejarawan Anhar Gonggong menanggapi desakan aktivis RMS di Belanda agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan keberadaan makam tersebut.Tuntutan pencarian keberadaan makam “proklamator” Republik Maluku Selatan Dr Soumokil itu merupakan salah satu tuntutan yang diajukan John Presiden Republik Maluku Selatan di pengasingan, John Wattilete.
Menurut Anhar, keadaan 1960-an jauh berbeda dengan saat ini. “Jangan bayangkan seperti eksekusi terorisme yang disiarkan langsung di televisi,” kata sejarawan Universitas Indonesia ini, Kamis (7/10). Saat itu segalanya dilakukan tertutup dan tidak yang mempermasalahkan Hak Asasi Manusia.
Christian Robbert Steven Soumokil, lahir 1905, turut mendirikan Republik Maluku Selatan pada 25 April 1950. Sebulan kemudian lulusan Universitas Leiden Belanda ini menggantikan JH Manuhutu sebagai Presiden RMS.


Hampir semua pemimpin gerakan tertangkap hidup, kecuali Abdul Qahhar Mudzakkar yang tewas saat kontak senjata pada 1965. Eksekusi dilakukan secara rahasia, sehingga tidak ada yang tahu lokasinya kecuali pasukan yang bertugas dan pimpinan di garis komandonya.
Nasib serupa dialami Dr Soumokil. Menurut Anhar, dia tertangkap di Maluku pada 1962 dan dieksekusi tanpa pengadilan tahun berikutnya. Versi lain, seperti dikutip dari Wikipedia, menyebutkan Soumokil tertangkap di Pulau Seram, 2 Desember 1963. April 1964, Pengadilan Militer menjatuhinya hukuman mati dan dilaksanakan pada 12 April 1966 di Pulau Obi, Utara Jakarta.


Pasca ekskusi, Anhar melanjutkan, sulit mengetahui nasib jenazah. “Selesai menembak, tugas pasukan selesai,” kata penulis biografi Qahhar Mudzakkar ini. Masyarakat hanya mengetahui informasi kematian pemimpin pemberontak dari media massa. “Itu pun sekedar ‘Dr Soumokil Sudah Tewas’, tidak pernah beritakan detil,” katanya.
Menurutnya, generasi tentara sekarang, termasuk Presiden Yudhoyono, tidak mungkin tahu letak makam Soumokil. Itu pun dengan catatan jenazah Soumokil dikuburkan. “Klaim di Pengadilan Belanda mengada-ada,” kata Anhar.


__________________
Menguak Bencana yang menenggelamkan peradaban di Indonesia
Selama delapan bulan, Tim Studi Bencana Katastropika Purba mencoba mencari dan meneliti fakta dan data bencana di abad modern ataupun zaman purba yang katastropik atau dampaknya menghilangkan peradaban. Seperti terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004 silam, adalah megatsunami yang menghancurkan sebagian peradaban di Tanah Rencong. Demikian rilis yang diterima Liputan6.com, Ahad (24/4), dari Wisnu Agung Prasetya, asisten Staf Khusus Tim Studi Bencana Katastropik Purba.
Berdasarkan penelitian Tim Studi Bencana Katastropika Purba, ternyata di Aceh teridentifikasi kemudian ada Desa Ie Beuna. Artinya, ombak besar bergulung-gulung. Ini berarti pula pernah ada tsunami di Aceh. Bahkan, tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI menemukan bangunan kuno di laut Aceh. Dan melalui ekskavasi geologi berhasil membuktikan 1.400 tahun lampau pernah terjadi mega tsunami.
Warga Simeulue mengenal smong atau tsunami pada 1907, sehingga korban sedikit saat tsunami 2004. Masyarakat Yogyakarta dikejutkan gempa pada 2006 yang merusak dan menimbulkan korban. Padahal 1835 pernah terjadi gempa yang lebih besar. Di sini menunjukkan betapa lemahnya ingatan masyarakat Indonesia terhadap bencana. Padahal, gempa atau gunung berapi bisa dipastikan akan mengalami pengulangan: The Past is the Key of Future.
Untuk diketahui pada 1814, Sir Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Kolonial Inggris di Jawa, 1811-1816), menemukan satu bukti bencana katastropik purba akibat letusan gunung api di semak belukar, yaitu Candi Borobudur. Data sejarah menunjukkan pernah ada letusan Merapi sekitar era 1000-an. Bisa dibayangkan, peradaban yang terkubur itu. Belum lagi jika menengok perubahan iklim yang diakibatkan letusan Toba di Pulau Sumatra, 75 ribu tahun lalu.
Bagaimana dengan Jakarta Hasil pemantauan global positioning system (GPS) dan pengukuran deformasi serta disandingkan dengan data historis, juga mengagetkan hasilnya. Ada potensi 8,5 skala Richter di Selat Sunda. Ini juga pengulangan 1906, 1856, 1833, dan 1699, serta gempa-gempa kecil yang terasa sampai Jakarta.
Bertitik tolak dari itu, tim mencoba mendapatkan bukti otentik sedimentasi atau data lainnya dengan segera melakukan penelitian intensif terhadap temuan Candi Jiwa di Bekasi, Jawa Barat.
"Kita senang terhadap temuan peradaban itu, tetapi juga harus ditemukan mengapa dan kapan candi itu terkubur. Karena jarak dengan Jakarta tidak terlalu jauh. Apakah tertutup karena vulkano atau mega tsunami. Kita menyambut baik langkah Foke (Gubernur Fauzi Bowo) yang segera membuat peta mikrozonasi dan building code. Karena ini juga rekomendasi tim sembilan peta gempa yang melihat ada kenaikan 0,3 g di batuan dasar. Sama seperti Aceh, Sumbar, Bengkulu, Banten, Jabar, Jatim, Jateng dan Yogya. Kita berupaya secara scientific mengurangi risiko bencana dengan menemukan gempa purbanya. Apa yang terjadi di Jepang menjadi pelajaran bersama. Masyarakat harus bahu-membahu membantu Pemda, BNPB, BMKG dan lain-lain, tidak perlu panik," urai Wisnu Agung.
Terkait rencana pembangunan jembatan Selat Sunda, temuan ini sangat penting agar jembatan tersebut disiapkan untuk tahan gempa di atas besaran yang potensi itu. Dengan begitu, pembangunan harus terus jalan.
Pada kejadian letusan katastropik Toba, diperkirakan terjadi pemusnahan massal dari populasi makhluk hidup di seluruh dunia, termasuk manusia. Hanya sebagian kecil yang dapat bertahan hidup. Meskipun demikian, tidak ada data yang cukup untuk mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada peradaban manusia sebelum dan sesudah letusan Toba.
Ilmu pengetahuan hanya tahu bahwa paling tidak sejak sekitar 90.000-100.000 tahun lampau, bumi sudah dihuni oleh makhluk berakal dan mengenal Tuhan. Dan sampai saat ini para ilmuwan sedunia percaya bahwa sampai sekitar 10.000 tahun lalu manusia
masih hidup di zaman batu, alias hidup di alam, di hutan-hutan dan gua-gua seperti hewan.
Adapun letusan gunung api katastropik lainnya adalah letusan Gunung Krakatau purba. Catatan mengenai letusan Krakatau purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi.
Isinya antara lain menyatakan: "Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara (Krakatau). Ada pula guncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula...Ketika air menenggelamkannya, Pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan Pulau Sumatra.
Pencipta Burung Garuda ;Lambang Negara RI .

SEPANJANG orang Indonesia, siapa tak kenal dengan lambang burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.

Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.
Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas.
Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Bandung ternyata bekas danau purba
SUNGAI Citarum pernah dijadikan batas kerajaan-kerajaan wilayah di Tatar Sunda. Nama sungai ini diambil dari nama tanaman (nila). Daerah hulunya di Cisanti – Gunung Wayang, pernah dijelajahi satria pengembara Bujangga Manik (abad ke-15 atau ke-16). Saat melintasi kawasan Priangan ini, Bujangga Manik sudah mengenal dengan baiksakakala Sangkuriang kesiangan, seperti yang ia tuliskan dalam catatan perjalanan mengelilingi pulau Jawa dan Bali seorang diri.Sungai ini mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan manusia dan kebudayaan masyarakatnya. Secara alami, Bandung berada di kuali raksasa Cekungan Bandung.
Ke dalam cekungan ini mengalir sungai-sungai yang bersumber dari gunung-gunung yang berada di pinggiran kuali raksasa tersebut, lalu sungai itu berbelok mengalir ke arah Barat Laut, sesuai arah kemiringan wilayah ini.
Pinggiran Cekungan Bandung terdiri dari rangkaian gunung-gunung. Di utara, ada Gunung Burangrang, Gunung Sunda, Gunung Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, dan Gunung Putri. Sebelah timur ada Gunung Manglayang, di selatan ada Gunung Patuha, Gunung Tilu, Gunung Malabar, Gunung Mandalawangi. Di bagian tengah ada rangkaian gunung api tua, dan di barat dibentengi rangkaian bukit-bukit kapur Rajamandala. Bandung memang dilingkung gunung!
Ketika pantai utara (pantura) pulau Jawa masih di sekitar Pangalengan sekarang, cekungan Bandung masih berupa laut dangkal yang ditumbuhi binatang koral yang indah. Perbukitan kapur di Tagogapu – Rajamandala adalah salah satu buktinya. Terus terjadi proses pengangkatan kulit bumi, sehingga pantai utara pulau Jawa bergeser terus ke arah utara. Karena arah pengangkatan kawasan Bandung Raya ini berasal dari selatan, air akan mengalir ke Utara, termasuk aliran induk Citarum.
Saat Kala Pliosen, sekira 4 juta tahun yang lalu, terjadi kegiatan gunung api di selatan Cimahi, dibuktikan dengan adanya Pasir Selacau, Pasir Lagadar, dan lain-lain yang mengarah utara – selatan. Dengan lahirnya gunung api intrusif ini, aliran Citarum menyusuri kaki timur rangkaian gunung api tua ini, dan terus mengalir ke utara melewati Padalarang sekarang. Nantinya rangkaian gunung api purba ini menjadi Pematang Tengah yang memisahkan Danau Bandung Purba Timur dengan Danau Bandung Purba Barat.
Baru pada zaman kuarter kala Plestosen, lahirlah Gunung Sunda. Gunung api ini tingginya lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut (dpl.). Pada kala ini pula Gunung Sunda meletus dahsyat hingga membentuk kawah yang sangat luas (kaldera), disusul terjadinya patahan Lembang yang memanjang timur – barat sepanjang 22 km dari kaki Gunung Manglayang hingga sebelah barat Cisarua.
Bagian utaranya relatif turun sedalam 450 m, terutama di bagian timur patahan, sementara bagian selatan relatif tetap pada posisinya. Aliran Citarum berbelok ke Barat menyusuri sisi patahan yang sekarang dialiri Cimeta.
Mengisi patahan Lembang
Gunung Tangkuban Parahu meletus sekitar 125.000 tahun yang lalu dari sisi timur kaldera Gunung Sunda. Material letusannya sebagian mengisi patahan Lembang, dan sebagian lagi mengalir ke arah barat daya Bandung.
Letusan dahsyat berikutnya terjadi sekitar 55.000 tahun lalu. Material letusannya membanjir menutupi wilayah yang sangat luas hingga ke daerah Kopo dan Leuwigajah di selatan. Material gunung api yang luar biasa banyaknya itu telah membendung Citarum purba di utara Padalarang hanya dalam hitungan puluhan menit. Maka terbentuklah Danau Bandung purba.
Akibatnya, ada bagian Citarum yang hilang karena tertimbun material letusan, dan induk Citarum dari daerah yang terbendung ke hilir menjadi anak Sungai Citarum yang namanya berubah menjadi Sungai Cimeta. Sungai Cimeta bertemu kembali dengan Sungai Citarum.
Saat Bandung menjadi danau, kawasan ini sudah dihuni manusia. Hal ini terbukti dengan ditemukannya artefak dari batu obsidian yang berupa mata anak panah, mata tombak di atas garis kontur +712,5 dpl. yang bahan bakunya diambil dari Gunung Kendan di sekitar Nagreg, serta kerangka ngaringuk di Gua Pawon.
Pada saat Bandung menjadi danau raksasa, dan ketika air genangannya mulai bersentuhan dengan dinding perbukitan di sisi barat danau, sejak itulah air merembes di dinding danau dan membentuk mata air di bawahnya, yang kemudian menjadi salah satu anak Citarum purba.
Sekitar 18.000 tahun yang lalu, muka air laut turun sangat dalam, sehingga laut dangkal seperti Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, dan Laut Cina Selatan menjadi kering, dan dasarnya bisa dilalui hewan dan manusia yang bermigrasi. Akibat dari susut laut ini, akan terjadi erosi ke arah hulu sungai yang luar biasa besarnya.
Inilah salah satu penyebab kuatnya erosi mudik yang mengikis hulu sungai hingga dapat membobol hulu sungainya di antara Puncaklarang dan Pasir Kiara, yang merupakan dinding barat Danau Bandung purba.
Akhirnya Danau Bandung purba mendapat penglepasan di celah-celah bukit tipis (hogback/pasiripis/lalangasu) antara Puncaklarang dan Pasir Kiara. Dengan bobolnya Danau Bandung purba barat.
Terowongan/sungai bawah tanah (Sangiangtikoro), ternyata bukan tempat bobolnya Danau Bandung purba. Terdapat perbedaan ketinggian antara 300-400 meter antara Sangiangtikoro dengan Puncaklarang dan Pasir Kiara sebagai bibir Danau Bandung purba yang mencapai ketinggian 712,5 meter dpl. (Budi Brahmantyo, 2001).
Derasnya aliran air Danau Bandung purba Barat telah mengikis ke arah hulu, dan menggerus dan menjebol celah Danau Bandung purba Timur di Curug Jompong. Setelah bekas danau Bandung purba menjadi kawasan basah, aliran Citarum memotong Pematang Tengah menuju arah Barat. Maka terjadi perubahan aliran sungai, yang asalnya anak sungai berubah menjadi induk Citarum.
Pada akhir abad ke 20, aliran Citarum di bagian tersempit di Selatan Rajamandala sengaja dibendung menjadi Danau Saguling untuk memenuhi kebutuhan energi listrik Jawa dan Bali. Akibatnya ada bagian Citarum yang tergenang danau, dan sungai di bagian hilir bendungan menjadi sungai, karena aliran air dari danau itu dialirkan melalui dua pipa luncur untuk memutarkan turbin di Pembangkit Listrik di sekitar Sangiangtikoro.
Perubahan aliran Citarum di Cekungan Bandung terus berjalan hingga kini. Pengelolaan lahan di hulu sungainya telah menyebabkan pendangkalan sungai dan danau begitu cepatnya. Nasib Citarum bertambah mengenaskan dengan pencemaran limbah industri yang sudah melampaui batas.
Apa yang akan terjadi kalau tiga danau yang berada di aliran Citarum terus mendangkal karena pelumpuran yang sangat tinggi? Akankah arah Citarum berbelok lagi?
Meluruskan sejarah Kapitan Ahmad `Pattimura’ Lussy
Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi dia lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen.Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia umumnya.
Nunu oli
Nunu seli
Nunu karipatu
Patue karinunu
(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan
menggantinya). Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang patriot yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis.Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”. Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan,penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu.
Di bagian lain, Sapija menafsirkan, “Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”. Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis.Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu,karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.Muslim Taat Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”. Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah
Sultan Abdurrahman. Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari
Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku. Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura. Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kinidiidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadibest seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen,lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja.Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”Sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, dari sudut pandang antropologi juga kurang meyakinkan. Misalnya dalam melukiskan proses terjadi atau timbulnya seorang kapitan. Menurut Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.Leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan diluar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga,rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia. seorang Muslim karena selalu mengibarkan bendera merah putih. Begitu pula Pattimura. Ada apa dengan bendera merah putih? Mansyur merujuk pada hadits Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani. Di situ tertulis, Imam Muslim berkata: Zuhair bin Harb bercerita kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Basyyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu’adz bin Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dari Qatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, dari Tsauban, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi, timur dan baratnya. Dan Allah
melimpahkan dua perbendaharaan kepadaku, yaitu merah dan putih”.Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Wallahu A’lam Bish Shawab
Mahapatih Gadjahmada ; Sang Pengibar Merah Putih di seluruh Asia Tenggara
Bendera nasional Indonesia, yang dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih (“Merah Putih”) didasarkan pada bendera Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 di Jawa Timur. Bendera itu sendiri diperkenalkan dan dikibarkan secara resmi di hadapan dunia pada upacara Hari Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945. Desain bendera masih tetap sama sampai sekarang.
Warna merah putih berasal dari bendera Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Kemudian, warna-warna itu dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan para nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme melawan Belanda. Bendera merah-putih dikibarkan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan Belanda, bendera itu dilarang berkibar. Sistem ini diadopsi sebagai bendera nasional pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan telah digunakan sejak saat itu.
Ada juga cerita lain tentang bendera Indonesia, yang secara signifikan berhubungan dengan bendera Belanda. Di bawah kolonialisme Belanda, setiap urusan menggunakan bendera Belanda (merah-putih-biru). Sedangkan bendera Indonesia dilarang digunakan. Sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda, kaum nasionalis Indonesia dan gerakan kemerdekaan merobek bendera Belanda. Mereka merobek bagian bawah bendera, dan memisahkan warna merah dan putih dari warna biru. Alasan utamanya adalah karena biru pada bendera Belanda dipahami sebagai berdiri untuk aristokrasi “berdarah biru”. Sebaliknya, warna merah mewakili darah yang tertumpah dalam Perang Kemerdekaan, sedangkan putih bisa dipahami untuk melambangkan kemurnian Indonesia.
Nama resminya adalah Sang Merah Putih sesuai dengan Pasal 35 UUD 1945. Bendera ini juga biasa disebut Bendera Merah Putih, Sang Dwiwarna, atau Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka adalah bendera yang dikibarkan di depan rumah Soekarno beberapa saat setelah dia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Bendera Pusaka ini adalah dijahit oleh Ibu Fatmawati Soekarno, dan dikibarkan setiap tahun di depan istana presiden pada saat upacara hari kemerdekaan. Namun, karena dianggap terlalu rapuh, Bendera Pusaka dikibarkan untuk yang terakhir kalinya pada 17 Agustus 1968.
Merah berarti keberanian, sedangkan putih berarti kemurnian. merah tersebut merupakan tubuh manusia atau kehidupan fisik, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia atau kehidupan rohani. Bersama-sama mereka berdiri untuk melengkapi manusia.
Secara tradisional, sebagian besar masyarakat Indonesia telah menggunakan merah dan putih sebagai warna suci mereka, pencampuran warna gula (warna merah berasal dari gula kelapa atau Gula aren) dan beras (berwarna putih). Sampai hari ini, keduanya merupakan komponen utama masakan Indonesia setiap hari. Rupanya, penduduk Kerajaan Majapahit juga menggunakan konsep ini dan dirancang sebagai bendera merah dan putih.
Sjafruddin Prawiranegara Presiden yang tak dianggap
Kita sering mendengar atau membaca petuah bijak " Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah ". Tapi kini Paradigma itu bergeser menjadi " Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah merekayasa sejarah "
28 Februari 2011 tepat satu abad kelahiran Tokoh Nasional yang terlanjur di cap sebagai Pemberontak.Tokoh yang berjasa menyelamatkan bangsa ini dari kekosongan Pemimpin ketika Presiden Soekarnao beserta Wapres M.Hatta di tangkap Belanda dalam Agresi Militer ke Ibukota RI ; Jogjakarta 19 Desember 1948 dan di asingkan ke Bangka.
Atas Perintah Presiden Soekarno mandat pemerintahan diserahkan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagaimana tertulis dalam Telegram resmi Presiden Soekarno " Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari minggu tgl 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah memulai serangannja atas ibukota-jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menugaskan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra ".
Telegram tersebut tidak pernah sampai ke Bukittinggi karena sulitnya komunikasi pada saat itu.Tapi ketika mendengar berita penangkapan Presiden dan wakil Presiden sore harinya, Mr Sjafruddin Prawiranegara langsung mengambil inisiatif senada dengan perin Presiden Soekarno.Dalam rapat sore harinya beliau mengusulkan pembentukan pemerintah darurat untuk mengisi kekosongan Kepala Negara sebagai Syarat Internasional agar Indonesia diakui sebagai suatu Negara yang berdaulat.
Atas usaha Pemerintah Darurat Indonesia Belanda akhirnya mau berunding dan melalui perundingan Roem Royen akhirnya Belanda membebaskan Presiden Soekarno dan Moh Hatta beserta dan kawan kawan kembali ke Ibukota Jogjakarta pada tanggal 13 juli 1949.dan diadakan rapat antara Pemerintahan Darurat RI dengan presiden Soekarno salah satu agendanya adalah pengembalian Mandat dari Mr Sjafruddin Prawiranegara kepada Ir Soekarno sebagai Presiden RI yang dilaksanakan secara resmi pada tanggal 14 Juli 1949.
Itulah Fakta sejarah yang harus diakui oleh Bangsa ini agar bisa menjadi bangsa yang BESAR.
Atas Perintah Presiden Soekarno mandat pemerintahan diserahkan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagaimana tertulis dalam Telegram resmi Presiden Soekarno " Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari minggu tgl 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah memulai serangannja atas ibukota-jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menugaskan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra ".
Telegram tersebut tidak pernah sampai ke Bukittinggi karena sulitnya komunikasi pada saat itu.Tapi ketika mendengar berita penangkapan Presiden dan wakil Presiden sore harinya, Mr Sjafruddin Prawiranegara langsung mengambil inisiatif senada dengan perin Presiden Soekarno.Dalam rapat sore harinya beliau mengusulkan pembentukan pemerintah darurat untuk mengisi kekosongan Kepala Negara sebagai Syarat Internasional agar Indonesia diakui sebagai suatu Negara yang berdaulat.
Atas usaha Pemerintah Darurat Indonesia Belanda akhirnya mau berunding dan melalui perundingan Roem Royen akhirnya Belanda membebaskan Presiden Soekarno dan Moh Hatta beserta dan kawan kawan kembali ke Ibukota Jogjakarta pada tanggal 13 juli 1949.dan diadakan rapat antara Pemerintahan Darurat RI dengan presiden Soekarno salah satu agendanya adalah pengembalian Mandat dari Mr Sjafruddin Prawiranegara kepada Ir Soekarno sebagai Presiden RI yang dilaksanakan secara resmi pada tanggal 14 Juli 1949.
Itulah Fakta sejarah yang harus diakui oleh Bangsa ini agar bisa menjadi bangsa yang BESAR.
Menyelamatkan Republik ini dari kekosongan Pemimpin agar diakui sebagi Negara oleh Dunia Internasional
Liciknya Pemimpin Negeri ini : Kalau Anda masuk ke Bina Graha era Orde baru Ada satu foto yang terpajang besar dan mencolok dalam foto itu Jenderal Besar Soedirman dan Soeharto masih muda.Tapi tahukan Anda kalau foto tersebut telah melalui proses Cropping dengan memotong gambar Mr Sjafruddin Prawiranegara dan hanya menampilkan Jend Besar Soedirman dan Soeharto .Entah apa motifnya,Yang jelas pemimpin Negeri ini telah berbuat kezoliman pada Tokoh Yang Melahirkan Republik ini.
INILAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN FAKTA SEJARAH.
- Ir Soekarno : Presiden Pertama kemudian setelah perubahan dari Republik menjadi Republik Indonesia Serikat , Soekarno menjabat sebagai Presiden RIS
- Mr Sjafruddin Prawiranegara : Menjabat Presiden agar tidak terjadi kekosongan Pemimpin sebagai syarat agar Indonesia diakui sebagi Negara oleh dunia Internasional.
- Mr Assaat : Presiden Republik Indonesia terpisah dari RIS dan akhirnya melebur menjadi Negara kesatuan Republik Indonesia NKRI dibawah Presiden RIS Ir Soekarno pada tanggal 15 agustus 1950, ini berarti Mr Assaat menjabat Presiden selama 9 bulan.
- Soeharto
- BJ Habbie
- Abdurrahman wahid
- Megawati Soekarno Putri
- Soesilo Bambang Yudhoyono.
" BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG TIDAK PERNAH MELUPAKAN JASA PAHLAWAN DAN TIDAK MEREKAYASA SEJARAHNYA "






